Mar
29
2015

Okto Silaban: Web Hosting Luar Negri vs Web Hosting Lokal

Hosting Luar Negri

Jadi tiba-tiba satu blog lain yang saya manage kena suspend. Gak ada email gak ada notifikasi. Tiba-tiba saya mau post tulisan keluar pesan account di-suspend. Ini hosting luar negri. Inisial nya H.

Coba login ke portal billing, tidak bisa lagi. Coba submit ticket untuk nanya/complaint, gak bisa login juga. Aneh. Akhirnya masuk ke fitur chat support. Entah kenapa di sini bisa login.

Ternyata kata supportnya, harusnya ada email yang masuk. Akhirnya dia proses di sana agar dikirim ulang. Barulah saya terima emailnya.

Kata emailnya, account saya harus diverifikasi terlebih dahulu. Minta kirim scan ID resmi. Langsung saya kirim. Malamnya saya cek email dapat reply, dia bilang sepertinya waktu register saya via VPN / Data Center lain. Peraturan mereka gak boleh registrasi kalau via VPN / Data Center lain. Betul memang, waktu mendaftar saya sedang menggunakan proxy yang berada di luar negri. Ini karena tuntutan pekerjaan.

Anehnya, waktu registrasi, pembayaran via PayPal, dll tidak ada masalah. Kalau emang gak boleh ya kenapa gak dari awal aja sih ditolak. Ini webnya udah jalan hampir semingguan, tiba-tiba di-suspend. Dan sebelnya, data di hosting itu tidak bisa saya backup lagi. Dikonfirmasi dari team supportnya.

Satu-satunya jalan adalah saya register lagi sebagai member baru. Data hosting lama saya akan dibackup oleh mereka. Setelah saya register baru, nanti bisa saya restore backupnya. Tapi entah gimana cara backupnya, gimana cara ngambil backupnya dll belum jelas.

Terlanjur kesal, ya sudahlah saya cari hosting lain aja. Kata si H ini dana saya akan di-refund. Entahlah. Udah gak peduli lagi. Saya pikir untuk cari hosting lokal ajalah, yang sepertinya tidak bakal seribet ini. Saya relakan saja data saya hilang.

Hosting Lokal

Di salam satu forum chat, saya sempat membaca tentang sejarah salah satu penyedia hosting lokal, inisialnya C. Tidak tanggung-tanggung yang cerita adalah pendirinya langsung.

Katanya, awalnya dia survey. Dia niat pura-pura jadi pelanggan lalu mengontak tim support beberapa hosting lokal yang sudah terkenal. Disebutkan beberapa inisialnya. Saya tahu semuanya, memang inilah hosting yang populer di Indonesia. Saya pernah jadi pelanggan dari 2 hosting yang disebutkannya. Bahkan saya masih jadi pelanggan di salah satu dari 2 hosting itu hingga saat ini.

Menurut pendiri hosting C ini, dari hasil tes nya, semuanya tidak responsif. Harga mahal, tapi support tidak cepat. Ngaku punya tim support banyak, padahal paling cuma 1-2 orang. Kurang lebih begitu ceritanya. Intinya supportnya gak bagus.

Berangkat dari situlah maka dia mendirikan hosting C ini. Dia ingin membangun hosting yang supportnya bagus. Emergency atau tidak, tim supportnya harus responsif. Akhirnya beberapa situs lokal yang cukup populer menggunakan layanan mereka. Testimoni mereka pun menyatakan mereka puas dengan layanannya.

Ok, tak mau terulang dengan H yang prasyaratnya baru ketahuan belakangan, saya mengunjungi hosting C ini. Males lah untuk baca-baca dokumentasinya. Saya urgent mau segera buat ulang blog saya. Karena urgent, tentu pilihan utama adalah telpon dong ya. Ya sudah saya telpon saja nomor yang tertera di situs C.

Iya ini memang Sabtu malam jam 11-an. Tapi mengingat cerita si pendiri C tadi, sepertinya dia sangat menjual betapa hebatnya support di C ini. Harapan saya mereka tetap responsif di jam seperti ini.

Hasilnya? 5 kali saya telpon bolak – balik, jawabannya sama, operator sedang sibuk.

Saya tanya via Twitter, cepet sih dibalas. Cuma balasannya adalah diminta bikin tiket. Gimana caranya mau bikin tiket kalau belum jadi user? -_-

Akhirnya saya nekat saja, coba jadi user. Ya, 50rb sih modalnya. Registrasi, bayar, done. Loadnya kenceng sih. Mungkin karena lokal servernya.

Setelah setup sedikit sana-sini, dan coba step yang paling sederhana, install WordPress. Di Control Panelnya sudah disediakan menunya. Setelah isi form, next.., next. Error. “MySQL Extension is not loaded” katanya. Aneh. Padahal kalau dicek dari Phpinfo() sih ada.

Ya sudah, pakai cara oldschool. Upload file wordpress.tar.gz ke server via File Management di Control Panel. Selesai upload, saya centang nama filenya, pilih menu “extract compressed file”. Gagal. Ternyata mereka gak support tar.gz. Saya harus upload ulang lagi versi .zip nya. Baru bisa.

Belakangan saya ketahui kalau SSH juga tidak disupport, begitu juga WebDav. Dan yang paling nyebelin, bandwith internasionalnya kecil banget. Ngett..ngett..

Saya install plugin wordpress via backend, loadnya putus-putus mulu. Padahal plugin-plugin WordPress biasanya kecil-kecil loh. Paling 1-2MB.

Saya makin yakin ketika coba validasi salah satu URL dari blog saya disitu ke Twitter Card. Twitter gagal terus meload content dari blog itu. Padahal saya test URL situs-situs lain (yang di-host di lokal), tidak ada masalah. Saya sempat test juga URL salah satu situs yang saya tahu di-host di hosting C ini. Hasilnya sama. Twitter gagal fetch konten.

Dan terkonfirmasi akhirnya oleh pendirinya. Kalau layanan hostingnya memang bandwith internasionalnya kecil. Kalau mau yang gede pakai yang layanan VM. Lah.., baru bilang. Di webnya saya cari-cari infonya enggak ada.

Ahh.. nasib.

Rekap

Saya punya pengalaman menjadi pelanggan di 5 hosting lokal yang cukup populer. M, Q, Id, Ig dan C tadi. Sejauh ini, di semuanya saya punya pengalaman buruk:

M: SSH enabled. Tetapi setelah login SSH, kita gak bisa ‘ls’. Permission denied. Loh? Saya bingung. Emang saya di direktori apa, kok gak boleh ‘ls’. Saya coba ‘pwd’, permission denied juga. Akhirnya saya nebak-nebak path direktori saya itu dimana. Sampai akhirnya ketemu path $HOME saya. Baru bisa ‘ls’. Saya testi soal ini di sebuah milis, dan ternyata owner hosting itu founder milis ini. Tapi saya ngasih testinya sekian tahun kemudian, setelah menutup akun di sana.

Q: Pernah interaksi sama tim supportnya. Cara ngejawabnya gak profesional. Dan pernah juga tiba-tiba domain saya gak diperpanjang aja gitu. Jatuh tempo gak ada kabar, gak ada email. Lucunya untuk billing hostingnya tetap normal. Padahal saya pesan sepaket. Gara-gara insiden ini sekarang jatuh tempo domain dan hostingnya jadi beda tanggal. Bikin ribet. Iya.., saya masih pakai juga sih hosting ini sampai sekarang, udah 7 tahun loh. Dan barusan dapat email dari mereka judulnya “[domain saya] akan expired dalam 00/00/0000 Hari“. -__-

Id: Yang register sebenarnya saudara saya. Saya ikut manage. Pernah suatu hari tiba-tiba webnya mati. Lama diusut akhirnya pihak hosting bilang kalau servernya kebakar. Gak ada backup. Hilanglah sudah website dan isi-isinya. Sementara backup yang kami punya data 6 bulan yang lalu. Kompensasi? Kata saudara saya sih cuma maaf aja. Hoo my..

Ig: Ini katanya hosting premium. SMA saya dulu milih host disitu. Sebagai alumni saya dimintai tolong bantu karena error terus. Ternyata? Module MySQL nya belum di-load di PHP.INI nya. 3 bulan error gak jelas, ternyata karena ini. Hosting bayar dimuka untuk 1 tahun, tapi baru bisa jalan di bulan ke-4 karena mereka lupa load MySQL nya di konfigurasi PHP. Iya, ini hosting premium loh katanya.

C: Yang tadi di atas.

Jadi, sejujurnya sampai sekarang saya selalu bingung setiap ada yang minta rekomendasi ke saya, hosting yang bagus (yang lokal) di mana ya? Ada yang bisa bantu?

Mar
29
2015

Fajran Iman Rusadi: Tagihan tahunan

Sekarang sudah bulan Maret dan ini artinya amplop hijau dari Gemeente alias pemerintah daerah dan amplop putih/biru dari Waternet akan datang! Amplop2 ini berisi Acceptgiro alias formulir pembayaran terkait bbrp hal xD Barhubung jumlahnya cukup signifikan, mari kita sekalian lihat dan catat apa aja sih yang ditagih.

Amplop pertama datang dari Gemeente. Dari sekian banyak hal yang bisa ditagih, yang sekarang relevan untuk saya adalah yang berikut ini. Oya angka2 ini bisa berubah tiap tahunnya dan yang saya pakai ini adalah untuk tahun 2015.

  • Onroerende-zaakbelastingen (OZB) alias pajak bangunan. Jumlahnya itu sekian persen (tepatnya 0,06228%) dari nilai properti yang (sepertinya) dihitung/ditentukan dari Gemeente. Jadi andai nilai rumah adalah 100 ribu euro, maka yang bakal ditagih adalah sekitar €63.

    Fun fact: di Amsterdam sini status tanah itu nyewa! Jadi kalau kita beli rumah, ya itu cuma tuk bangunannya aja. Si tanah tetep dimiliki oleh Gemeente (kayanya sih). Tiap daerah punya aturan sendiri termasuk yang status tanahnya adalah hak milik juga.

  • Afvalstoffenheffing yaitu uang kebersihan. Besarnya tergantung jumlah orang yang tinggal di sebuah alamat dan uniknya pilihannya cuma dua yaitu sendiri atau lebih dari satu orang xD Tuk tahun 2015 ini, si Gemeente bakal nagih €240 tuk satu orang dan €320 jika ada lebih dari satu orang.

  • Rioolheffing untuk saluran pembuangan. Besarnya dipukul rata sama semua yaitu sebesar €149.41.

Contoh hal lain yang bisa ditagih tapi gak relevan tuk saya itu pajak anjing. Jadi tiap orang yang memelihara anjing bakal harus bayar sekian euro.

Selain si Gemeente, Waternet yang ngurusin segala hal yang terkait dengan air juga punya tagihan tahunan. Ada dua/tiga hal yang ditagih oleh Waternet:

  • Watersysteemheffing atau pajak air. Besar tagihannya akan disesuaikan dengan properti/tanah yang kita punya. Tuk pemilik bangunan, sama seperti pajak bangunan di atas, besarnya akan dihitung berdasar nilai bangunan sebanyak 0,017089%.

  • Zuiveringsheffing atau Verontreinigingsheffing tergantung kondisi koneksi bangunan dengan saluran pembuangan. Komponen tagihan ini dipakai untuk pemurnian air yang “tercemar” oleh penghuni bangunan xD Besarnya dihitung berdasar jumlah pencemar, alias jumlah orang. Kalau cuma satu orang, akan dikenai tagihan sebesar 1 unit dan kalau ada dua atau lebih, tagihan akan datang untuk 3 unit pencemar. Tahun 2015 ini, ongkosnya adalah €53,76 per unit.

Kalau angka-angka di atas dijumlah semua, akan bikin puyeng jika mesti dibayar sekaligus. Untung aja si Gemeente (sayangnya si Waternet ngga demikian) menyediakan bbrp metode pembayaran. Dibayar sekaligus, dalam 2 kali pembayaran, atau 8 kali namun dengan tagihan otomatis. Sepertinya juga tiap bulan mesti menyisihkan sekian euro supaya gak terkaget2 setiap bulan Maret/April xD

Kalau ada yang salah2 atas penjabaran di atas, tolong kasih tau ya :D

Mar
29
2015

Tjetjep RB: Mata Lomba, Bukan Hanya Sekedar NAMA!

Apakah Mata Lomba salah satu kelompok Teknologi di LKS SMK hanya sekedar NAMA dan tidak memperhatikan standar yang berlaku di tingkat yang lebih tinggi, Asean (ASC) atau Dunia (Worldskills)? LKS SMK Tingkat Nasional 2014 di Palembang mencoba menjawabnya seperti pada gambar di bawah ini:     Bagaimana kondisi penamaan Mata Lomba di Tingkat Provinsi? Bisa […]
Mar
29
2015

Willy Sudiarto Raharjo: 10 Years of Using Slackware

This year marks 10 years of using Slackware. My first connection with Slackware started when i bought my first laptop, Acer Travelmate. At that time, i was a Mandrake/Mandriva user and i love it. I have been using Mandrake/Mandriva since 2002 and i also joined the localization project of Mandrake/Mandriva and got a VIP status as well. It worked well on my desktop, so when i got my laptop, i wanted to use it.

Unfortunately, it didn't work well on my laptop. It installed perfectly, but when i rebooted it always end up with a kernel panic. Since i need an OS inside the laptop, i decided to try other Linux distribution at that time. I had plenty of choices, but most of them failed to be installed. The only Linux distribution that worked at that time was Slackware 10.2. I decided to install and use Slackware as my main OS even though i never use it before and i had no idea what Slackware was.

In just short time, i decided to stick with -current and since then, i'm always following -current development branch, thus i don't need to reinstall again everytime new version gets released. During my journey, i learned about third party repositories and eventually SlackBuilds project. I started as a user and my first contribution to SlackBuild was in 2010 (5 years ago). This is my first commit and it was guvcview. I met many people during my journey with Slackware, SlackBuilds, LQ, and many other communities around Slackware. I also founded ID-Slackware community and many people gathered around. I never thought we have a lot of Slackware users in Indonesia. Nowadays, we have more than 500 members in our mailing list and the number keep growing.

On March 2013, i joined Chess Griffin to work on MATE Desktop SlackBuild project (MSB) project. It was a great project and i still maintain that project (we are hoping to get MATE 1.10 released this year). In late 2013 (around November), i was asked by Robby to join as SlackBuilds admins and i accepted. It was an honor to join with the rest of the admins such as Robby Workman, Eric Hameleers, Erik Hanson, Matteo Bernardini, Niels Horn, Heinz Wiesinger, David Somero, Michiel van Wessem, and others.

On April 2014 i started my CSB (Cinnamon SlackBuild) project and so far i'm pleased with the result. I'm planning to release a new version of CSB when next Slackware has been released due to unsatisfied dependencies which limit my effort to bring newer version to -stable users.

In 2015, we have passed over 5000 scripts in SlackBuilds project, which is an amazing milestone. We hope to achive 6000 this year. Big thanks to all maintainers who actively maintain and submit more packages to ease other Slackware users who wanted to install packages not provided by Slackware official repository.

It's been a great 10 years of great Slackware experience and i'm still loving it. Hopefully we will see another great release of Slackware (probably 14.2) from Patrick this year.
Mar
28
2015

Widya Walesa: Juffed Kuat Juga

Beberapa waktu lalu saya sempat menggunakan editor teks #Juffed sewaktu masih menggunakan #desktop #Razor-Qt. Waktu itu saya memilih menggunakan Juffed hanya karena program itu berbasis #Qt sehingga integrasinya ke desktop lebih pas daripada menggunakan editor teks berbasis GTK+. Hingga saat ini setelah Razor-Qt bergabung dengan LXDE membentuk desktop LXQt, saya kembali menggunakan editor ini sebagai pengganti #KDE Kate.

Saya tidak menggunakan Juffed dari SBo karena masih di versi 0.8.1. Saya menggunakan Juffed versi 0.10 yang telah mengintegrasikan juffed-plugins yang sebelumnya didistribusikan secara terpisah sehingga pada versi ini paket juffed-plugins tidak diperlukan. Selain itu pada versi ini, Juffed telah menggunakan CMake sehingga pemaketan menjadi lebih mudah dan lebih terstruktur.

Berikut ini adalah salah satu kekuatan Juffed. Silakan cermati baik-baik gambar berikut ini:

Juffed 0.10

Tertarik? WLSBuild untuk Juffed sudah tersedia.

Mar
28
2015

Widya Walesa: WLSBuild untuk LXQt

Silakan bagi yang berminat untuk menggunakan #SlackBuild (#wlsbuild) saya untuk #LXQt: https://github.com/w41l/wlslxqt

Jika ada permasalahan atau mungkin tambahan ke skrip saya, jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya baik melalui #github maupun di bagian komentar di artikel ini.

Peringatan: Hati-hati, selalu backup data-data penting anda atau gunakan mesin virtual untuk coba-coba.

Selamat mencoba

Mar
28
2015

Willy Sudiarto Raharjo: New KDE 5 release

KDE lovers, you are going to enjoy this news. Eric Hameleers has just published his latest KDE 5 packages, consisting of KDE Framework 5.8.0, Plasma 5.2.2, and Applications 14.12.3 plus the latest updates of the KDE 4 Long Term Support (LTS) packages kdelibs, kdepimlibs, kdepim, kdepim-runtime and kde-workplace for Slackware-Current users.

The highlights of this 5_15.03 March release are:
  • KDE Frameworks have been updated to 5.8.0 (includes two new Frameworks: KPeople and KXmlRpcClient)
  • KDE Plasma has been updated to 5.2.2 (bugfixes only)
  • KDE Applications have been updated to 14.12.3 (bugfix release, no new KF5 ports)
  • KDE Extragear was updated with version 2.9.1 of the Calligra office suite
  • The “deps” directory for this release contains two updates to stock Slackware packages: libwpd and grantlee. These version bumps are required by the new versions of calligra and kdepim respectively
  • And there’s two new “deps” packages as well: librevenge and libodfgen. Both of those are required for the new version of libwpd
As always, please read the accompanying README for instructions on installation/upgrade procedure. Some notes:
Upgrading to this KDE 5 is non-trivial. You will have to remove old KDE packages manually. If you do not have KDE installed at all, you will have to install some of Slackware’s own KDE 4 packages manually

Go get them from these mirrors:
Mar
28
2015

Dedy Hariyadi: Pelatihan Uji Keamanan Jaringan Nirkabel

Kelompok Studi Linux UPN "Veteran" Yogyakarta akan mengadakan pelatihan uji keamanan jaringan pada hari Minggu, 29 Maret 2015 pukul 08.00. Pelatihan akan diselenggarakan di Lab. Multimedia Gedung Pattimura Kampus Unit II Jln. Babarsari No. 2 Yogyakarta. Akses mudah untuk ke lokasi pelatihan di Kampus Unit II ini melalui Jln. Tambak Bayan atau lewat belakang.

Indonesia BackTrack Team Yogyakarta akan memandu pelatihan ini. Tentu Anda menyiapkan Kali Linux untuk memperlancar proses pelatihan. Untuk mengikuti pelatihan ini cukup membayar Rp. 40.000. Terkait pendaftaran dapat menghubungi Rizaldi di nomor 08563919254.



Mar
27
2015

Widya Walesa: LXQt 0.9.0

Ini bukan #KDE 5 tapi #LXQt 0.9.0 yang memang menggunakan beberapa komponen KDE #Framework 5 seperti framework Solid untuk removable device mount, KwindowSystem untuk manajemen jendela aplikasi, KGuiAddons untuk menggantikan Xlib dalam mengelola antarmuka aplikasi. Artinya LXQt sekarang lebih independen terhadap #X11 yang memang ke depan akan diganti menggunakan #Wayland. Sedikit tangkapan layar dari desktop LXQt di komputer saya.

LXQt 0.9.0 - PCMANFM-QtLXQt 0.9.0 - LXQt SettingsLXQT 0.9.0 - About

Buat yang ingin menggunakan #SlackBuild LXQt bikinan saya, mohon tunggu sejenak. Skrip SlackBuild masih dalam proses pembersihan dan perbaikan.

 

Mar
25
2015

Okto Silaban: LibreOffice Online dan Tantangan Produk OpenSource di Desktop

Setelah hampir setahun lebih menggunakan Microsoft Office 365 dalam pekerjaan sehari-hari saya cukup gembira mendengar ada alternatif open source untuk produk sejenis. Iya, memang belum rilis sih. LibreOffice akhir tahun ini akan tersedia versi online nya. Detailnya bisa dibaca disini.

Seperti halnya produk opensource lainnya, saya sering bingung siapa client enterprise yang ditarget mereka untuk menggunakan produk opensource di desktop. Kalau untuk server sih sudah tidak dipertanyakan lagi, bisnisnya memang besar sekali. RedHat saja tahun kemarin mencatat kenaikan revenue hingga 16%. Sementara untuk desktop saya tidak begitu jelas.

Selain kota Munich, yang hampir seluruh instansi pemerintahnya sudah migrasi ke opensource, saya tidak tahu dimana lagi ada migrasi opensource besar-besaran di desktop. Dan inipun instansi pemerintah, bukan swasta. Hmm, ya.. bisnis dari proyek pemerintah memang gak kecil juga sih nilainya. Tetapi bisnis dengan pemerintah itu tantangannya bukan lagi dari sisi teknis. Politik, lobi-lobi, koneksi dan lain-lain seringkali masih jadi pengaruh utama.

Nah, di Indonesia saya pernah mendengar beberapa perusahaan yang menggunakan opensource di desktopnya. Tapi ini saya hanya dengar dari mulut ke mulut sih. Beberapa di antaranya: Sosro, Kompas Gramedia (tim developer di grup majalah), Viva.co.id, Detik.com. Tapi itupun tidak 100%. Dan (setahu saya) tidak satupun dari mereka menggunakan jasa dari penyedia layanan enterprise untuk opensource (untuk desktopnya).

Merebut market desktop itu sulit sekali. Bukan soal urusan teknis saja (kompatibilitas antar versi, antar distro, standar desktop, dll). Tetapi juga urusan ekosistem. Sebuah perusahaan biasanya lebih memilih menggunakan suatu platform dengan ekosistem yang sama. Jadi mencari partner untuk membantu mereka pun lebih gampang, karena satu sama lain “pasti” cocok (compatible).

7 tahun lalu, saya pernah menyinggung soal ini juga. 4 tahun lalu juga saya bahas kembali. Dan sampai hari ini, sepertinya memang divisi desktop opensource itu tetap akan menyandang gelar “alternatif”, belum sejajar sebagai “pilihan utama”. Kutipan dari tulisan 4 tahun lalu itu sepertinya masih berlaku:

“Linux will remain the king of the server world, but on the desktop front it will always be an OS for enthusiast and hackers only.”

*hacker yang dimaksud di sini adalah mereka yang hobi ngoprek.

Sayang sekali kalau beneran jadi kenyataan, karena saya pribadi masih mendukung gerakan OpenSource maupun FSF ini.